Dosa Ghibah Lebih Keji 30 Kali Perbuatan Zina

Ghibah atau yang dalam bahasa Indonesia merupakan menggunjing merupakan dosa besar apabila dilakukan. Namun, sebagian besar orang tidak menyadarinya bahwa dosa ghibah sangatlah besar. Ada juga orang yang sudah tahu bahwa ghibah merupakan dosa besar, akan tetapi tetap saja dilakukan. Orang yang seperti ini justru akan mendapatkan azab yang sangat pedih ketika di akhirat kelak.

Para mufassir menjelaskan, ghibah adalah jika seseorang membicarakan kejelekan orang lain didepan umum maupun di belakang umum. Ghibah juga rentan dengan fitnah, sebab ketika seseorang sedang menggunjing orang lain, sudah pasti ada tambahan dan pengurangan atas diri orang yang digunjing itu tadi. Ketika ghibah sudah bercampur fitnah ini, maka dosanya adalah menanggung dosa ghibah dan dosa fitnah. Keduanya merupakan dosa besar yang sangat sulit untuk dimaafkan. Oleh sebab itu sudah sepatutnya Abu Aqila pemilik bengkel rohani untuk segera taubat. Janganlah egois!!!

Dosa Ghibah Lebih Keji 30 Kali Perbuatan Zina

Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujurat Ayat 12 :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
   
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dausa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." 
Mengenai Dosa ghibah ini al-Qur`an surat Al Hujarat ayat 12 menjelaskan bahwasanya tidak sepantasnya orang yang beriman berprasangka buruk kepada orang lain, sebab prasangka itu adalah dosa. Diingatkan pula agar orang beriman tidak juga menggunjing orang lain, karena hal itu sama halnya dengan memakan daging orang lain. Akan tetapi, jika orang yang berprasangka buruk dan suka menggunjing itu mau bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menerima taubatnya.

Perlu diingat pula bahwa dosa ghibah tanggung jawabnya tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada orang yang digunjing tersebut. Allah sudah menjelaskan akan menerima taubatnya orang-orang sungguh-sungguh dalam bertaubat. Akan tetapi, bagaimana dengan dosa orang yang menggunjing terhadap orang yang digunjing? Tentunya hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Akan beruntung apabila orang yang digunjing tersebut merupakan orang pemaaf, tetapi kalau orangnya tidak mudah untuk menerima maaf, maka yang menggunjing akan berdosa selamanya.

Asy Syaukani menjelaskan, kehormatan manusia itu sama halnya dengan dagingnya sendiri. Apabila dagingnya haram untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya yang tidak boleh untuk dilanggar. Untuk itulah, Asy Sayukani menyarankan agar manusia terutama umat Islam menjauhi ghibah atau menggunjing. Dosa ghibah, lanjut Asy Syaukani adalah sebagaimana dosanya orang yang memakan daging manusia. Daging manusia haram dimakan, sesuatu yang haram dimakan apabila tetap saja dimakan maka akan mendapatkan dosa besar.

Menurut imam Ghazali, dosa ghibah adalah lebih keji dari pada perbuatan zina yang dilakukan hingga 30 kali dan jaminannya sudah pasti neraka. Bayangkan, menggunjing orang lain adalah sama halnya dengan menginjak-injak martabat, kehormatan dan harga diri orang lain. Apabila Anda digunjing orang lain, sudah pasti Anda tidak akan menerimanya terlebih apabila gunjingan itu tidak sesuai dengan kenyataannya.

Apabila Anda merupakan orang pemaaf dan cuek dengan gunjingan orang lain itu, berarti Anda juga mudah untuk memaafkan orang yang menggunjing Anda. Tetapi apabila Anda sangat marah dan tidak bisa memaafkan orang yang menggunjing Anda, maka selamanya orang tersebut akan terbebani oleh dosa. Begitu juga ketika Anda menggunjing orang lain, Anda akan terbebani dosa selama orang yang Anda gunjing tidak memaafkan Anda.

Sebagai ilustrasi tentang dosa ghibah ini, Qotadah menggambarkan Anda pasti tidak suka ketika melihat teman atau saudara Anda mayatnya penuh dengan ulat. Tentunya Anda juga tidak ingin atau tidak akan memakan bangkai yang penuh dengan ulat tersebut. Maka dari itu, sudah sepatutnya agar Anda jangan menggunjing orang lain jika tidak ingin memakan bangkai yang penuh belatung ketika hari kiamat kelak.

At-Thobari juga menjelaskan tentang dosa ghibah diharamkannya ghibah sebab ghibah ada pertengkaran antara setan dan niat baik dan rata-rata setanlah yang memenangkannya. Sebagian besar orang ketika membicarakan orang lain sudah pasti tentang kejelekannya, dan sangat jarang sekali orang yang membicarakan kebaikan orang lain. Ketika kejelekan orang lain dibicarakan, maka diri orang tersebut sudah dikuasai oleh setan dan akan dikendalikan oleh setan pula. Pada akhirnya, ia akan menjadi batu loncatan setan ketika di neraka.

Fitnah akhir zaman mesti kita waspadai. Untuk itulah, sebagai orang Islam yang beriman kepada Allah, janganlah sampai kita berprasangka buruk kepada orang lain karena hal itu merupakan dosa besar. Begitu juga jangan sampai kita menggunjing (ghibah) orang lain, sebab dosa ghibah sama halnya dengan meruntuhkan kehormatan dan martabat orang yang digunjing tersebut. 
Tag : Siksaan
Back To Top