Umar bin Khatab pemimpin yang harus di teladani

    
Kita umat muslim tidak ada yang tidak kenal dengan satu nama yang ini, dia adalah UMAR BIN KHATAB, dialah sosok khalifah yang memimpin dengan sangat bijaksana. Dia adalah khalifah kedua setelah Nabi Muhammad SAW, kisah kepemimpinannya menjadikan ia begitu dikenal di seluruh penjuru dunia. Penuh wibawa, tegas dan adil dalam memutuskan suatu perkara. Hingga beliau begitu disegani dan di hormati. Cara cara dia memerintah perlu di ikuti oleh pemimpin pemimpin sekarang, Siapapun yang datang menghadapnya akan diperlakukan sama tanpa ada perbedaan. Beliau begitu menyanyangi rakyatnya, selalu datang pada saat orang membutuhkannya, ia senantiasa akan membantu pada orang orang yang membutuhkan bantuannya. Kisah kehidupannya banyak meninggalkan pesan pesan moral yang harus di teladani oleh para pemimpin pemimpin sekarang.

     Marilah kita simak bagaimana kehidupan dan sifat sifat Umar bin Khatab dalam menjalankan pemerintahannya. Semoga dapat memberi contoh bagi pemimpin di zaman sekarang:

1. Tak ada fasilitas kendaraan dinas

Dalam menjalankan roda pemerintahan beliau tidak pernah memakai kendaraan dinas, yang mana pada masa itu kendaraannya seperti unta dan kuda, beliau pergi selalu memakai kendaraannya sendiri. Kemanapun beliau pergi tidak pernah dikawal. Tidak pernah ada pengawalan khusus terhadap diri beliau, tidak seperti sekarang yang harus dikawal dengan mobil mobil yang memakai sirine yang meraung raung di tengah jalan untuk menghindari dari kemacetan.


2. Tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi

Segala sesuatu yang terdapat ditempat beliau bekerja yang menjadi milik negara tidak pernah di pakai olehnya untuk keperluan pribadi. Pernah pada suatu waktu anaknya datang menghadap beliau, dan pada saat anaknya datang di waktu itu sudah malam, dan mempersilakan anaknya masuk.
Lalu Umar bertanya pada anaknya,
"Ada apa wahai anakku engkau datang malam malam begini?
"Ada yang harus aku bicarakan wahai ayahku" jawab anaknya.
Lalu Umar bertanya,
"Apakah itu urusan pribadi dirimu atau urusan orang orang kita?
"Urusan keluarga kita ayah" jawab anaknya.
Tiba tiba Umar bin Khatab mematikan lampu minyak yang menerangi ruangan itu.
Di dalam gelap anaknya bertanya,
"Kenapa ayah mematikan lampu?
"Karena engkau datang menghadap aku bukan karena urusan pemerintahan, maka aku mematikan lampunya" jawab Umar
"Mengapa begitu ayah, kan ayah berhak memakainya? tanya anaknya
"Lampu itu punya negara, kalau engkau datang kemari hanya untuk kepentingan pribadi aku tidak berhak memakainya, lampu dan segala yang ada di sini semua di biayai oleh negara, jadi aku tidak berhak memakainya untuk keperluan pribadi kita" jelas Umar bin Khatab pada anaknya.
"Kan tidak mengapa ayah, lagian siapa yang akan tahu? kata anaknya lagi
"Wahai anakku sesungguhnya nanti aku akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah, karena aku memakai sesuatu yang bukan milikku untuk kepentingan pribadi" kata Umar menjelaskan pada anaknya. Mendengar penjelasan sang ayah, anaknya tak berani bertanya lagi.
Begitulah sikap Umar bin Khatab yang begitu amanah dalam menjalankan pemerintahan.


3. Tidak mau tinggal di rumah dinas/istana

Setelah beliau di angkat sebagai khalifah, Umar lebih memilih tinggal di rumahnya. Rumah dinas/istana hanya ia gunakan untuk kebutuhan dan keperluan negara saja. Beliau meninggalkan kehidupan mapan sebagai penguasa besar, dan lebih memilih untuk mengabdikan diri pada kepentingan hajat orang ramai.


4. Tidak minta tambahan gaji atau menaikannya

Mungkin orang orang sekarang tidak akan ada satupun yang mampu melakukan hal yang seperti ini, tapi khalifah Umar mampu melakukannya, lihatlah zaman sekarang, hampir semua pegawai pemerintahan minta naik gaji, orang orang sekarang selalu merasa tidak cukup dengan apa yang sudah diberikan oleh negara kepadanya. Tapi tidak dengan Umar, ia melakukan tugasnya dengan ihklas, ia merasa cukup dengan gaji yang telah diberikan oleh negara kepadanya, beliau tidak mengharapkan fasilitas yang mewah mewah, beliau meneruskan apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, selalu mengikuti apa yang pernah dilakukan dan dijalankan oleh Rasulullah SAW.


5. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab sendiri

Pernahkah mendengar atau membaca suatu cerita pada masa kepemimpinannya. Yang mana ada suatu waktu beliau sedang jalan jalan ke suatu kampung untuk melihat kondisi kehidupan para penduduknya. Tibalah sang khalfah pada satu rumah, ketika itu sang khalifah mendengar suara anak anak menangis. Sang khalifah pun berhenti, dan mendekat ke rumah tadi dan memberi salam pada yang punya rumah, dan ia pun mendapati ibu dari anak yang menangis tadi sedang merebus batu, lalu beliau pun bertanya,
"Mengapa engkau lakukan itu? tanya Umar pada yang punya rumah
"Aku melakukan ini untuk berpura pura pada anakku, seolah olah yang aku masak ini adalah gandum, dan setiap anakku bertanya, aku menjawab agar ia bersabar" jawab ibu dari anak tadi.
Mendengar penjelasan dari sang ibu beliau langsung pamit menuju Baitul mal, dan segera kembali dengan membawa sekarung gandum, Umar memikul sendiri gandum tadi dan memberikannya pada ibu tadi, semua ia lakukan dengan penuh tanggung jawab, Begitulah sebenarnya pemimpin yang kita inginkan, walaupun tidak harus memikul sendiri bantuan yang diberikan, tapi melihat langsung kondisi rakyatnya adalah kewajiban bagi sang pemimpin.

6. Selalu menerima saran dan kritikan orang lain

Ketika Umar bin Khatab di angkat menjadi khalfah, ia selalu minta untuk dikritik dan di beri saaran dan masukan, dan belau berkata.
"Jika suatu saat nanti kalian ada yang melihat aku telah melenceng dari ajaran yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW, maka janganlah kalian segan segan untuk mengkritik aku dan memberikan saran padaku, begitulah khalifah Umar yang sangat menghargai pendapat orang lain. Demikianlah riwayat singkat kisah kehidupan sang khalifah Umar bin Khatab, semoga dapat memberi hikmah bagi kita semua.
Back To Top