5 nasehat Ibrahim bin Adham bagi pemuda yang penuh maksiat

   Setiap manusia tidaklah luput dari dosa, namun sebaik baik manusia adalah ketika ia berbuat dosa maka ia segera bertaubat, dan tidak lagi mengulangi perbuatannya. ia sadar dengan segala yang dilakukannya, dan segera kembali kepada jalan yang benar. Kita mungkin pernah membaca cerita, kisah seorang pemuda yang hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Namun ketika suatu saat ia sadar setelah menemui seorang yang mempunyai ilmu agama yang baik, dia adalah Ibrahim bin Adham, beliau adalah seorang guru yang sangat bijak dalam menjelaskan dan memberi bimbingan kepada setiap orang, hingga pada suatu ketika datanglah seorang laki-laki yang datang menemuinya.

   Ya, dia adalah seorang laki-laki yang masih muda dan belum menikah, dan pemuda itu pun datang menemui dirinya. Pemuda ini sudah keterlaluan dalam melakukan dosa, zina , menipu, mencuri dan berjudi sudah menjadi bagian dari hidupnya, masyarakat tempat ia tinggal sudah bosan melihat tingkah lakunya, sehingga banyak sekali dari penduduk tersebut menginginkan pemuda tersebut mati saja daripada terus menerus berbuat maksiat. Hingga tibalah masanya pemuda tersebut datang menemui sang guru tersebut, entah gerangan apa yang membuat pemuda tersebut tersadar dari segala perbuatan yang dilakukannya, hingga ia mau datang menemui Ibahim bin Adham. Sesudah ia sampai maka sang guru pun mempersilakan ia masuk, dan Ibrahim bin Adham pun bertanya, "Ada apa gerangan yang membuatmu datang menemui aku wahai anak muda?. Pemuda tersebut tidak langsung menjawab, ia diam beberapa saat, mungkin karena malu untuk mengatakannya, tapi bathinnya terus bergejolak ingin menumpahkan segala apa yang telah terpendam di hatinya selama ini, pemuda tersebut menarik nafas panjang, lalu ia berkata.

   "Wahai tuan guru, aku ingin meminta petunjuk darimu, jika memang masih ada cara untuk menghentikan segala perbuatanku, aku adalah orang yang penuh dengan perbuatan maksiat, hari hari ku lalui dengan dosa, hingga orang orang menginginkan agar aku lebih baik mati saja, mereka sudah bosan dengan segala tingkah laku dari perbuatan dosa yang kulakukan" pemuda itu bercerita dengan suara agak serak, seperti sudah tersadar dari segala dosa yang dilakukannya. ia berkata dengan penuh kejujuran.

    Lalu Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai anak muda, dengarlah, jika kamu dapat berpegang pada teguh pada lima hal ini, maka kamu akan terbebas dari hal yang menjerumuskan kamu ke dalam maksiat, apa bila kamu sanggup, maka segala yang berbau maksiat akan menjauh dari kamu"

   "Katakanlah wahai tuan guru kelima hal tersebut, jika itu dapat membuat aku terbebas dari segala perbuatan yang selama ini aku lakukan, aku ingin segera bertaubat, dan meninggalkan segala perbuatan dosa yang telah lalu" kata pemuda tersebut.

    Lalu Ibrahim bin Adham pn melanjutkan,
"Pertama, jika seandainya kamu masih mau melakukan perbuatan maksiat, maka lakukanlah di mana tempat yang tidak bisa di lihat oleh Allah, bersembunyilah kamu agar Allah tidak dapat melihat kamu, kalau Allah tidak dapat melihat kamu maka dosa kamu tidak akan di catat, dan kamu akan terbebas dari dosa". Mendengar perkataan tersebut pemuda itu langsung berkata, "Bagaimana mungkin, sedangkan Allah itu Maha Melihat, tidak ada seorang pun yang luput dari penglihatan-Nya, itu tidak mungkin". Lalu sang guru berkata lagi, "Lalu jika yang melihat perbuatan dosamu adalah orang orang dekat kamu, kawanmu, tetanggamu dan orang orang yang kamu hormati, apakah kamu masih mau melakukan dosa lagi, lalu mengapa kamu tidak malu kepada Allah, padahal kamu tahu kalau Allah itu Maha Melihat, kamu boleh bersembunyi dari orang orang yang dapat melihat dirimu, tetapi kamu sadar jika perbuatan kamu tidak dapat engkau sembunyikan dari pandangan Allah, lalu memngapa kamu tidak merasa malu kepada-Nya" Pemuda itu sejenak terdiam, seakan dia menyadari dari atas apa yang selama ini dilakukannya, lalu ia berkata, "Lalu apa lagi yang kedua wahai tuan guru?,

   "Yang kedua, jika kamu masih melakukan dosa lagi, maka janganlah kamu makan lagi rezeki yang datang dari Allah" Belum sempat sang guru berhenti berbicara, pemuda tersebut langsung berkata, "Itu tidak mungkin wahai tuan guru, bagaimana bisa, sedangkan segala sesuatunya itu datangnya dari Allah, bukankah semua rezeki itu datangnya dari Allah?, Lalu sang guru berkata, "Lalu masih pantaskah bagi kita dengan memakan rezeki dari Allah, sementara setiap hari kita selalu meninggalkan segala perintah dan melakukan segala yang di larang-Nya?. Pemuda itu sesaat terdiam tanpa kata kata, lalu Ibrahim bin Adham melanjutkan, "Aku kasih contohnya, jika kita di terima numpang di rumah orang, lalu kita diberi makan dan segala keperluan, tapi di lain waktu kita mengecewakannya dengan segala perbuatan dosa yang kita lakukan, apakah kita tidak merasa malu pada yang punya rumah, masihkah kita tidak merasa malu?. Pemuda itu menundukkan kepalanya, lalu ia bertanya lagi, "Lalu apa yang ketiga?

   "Yang ketiga adalah, jika kamu masih ingin melakukan dosa, maka carilah tempat selain dari bumi Allah, janganlah kamu tinggal di bumi Allah, cari bumi yang lain saja". Mendengar perkataan itu pemuda tadi kagetnya bukan main, ia langsung berkata, "Itu mustahil wahai tuan guru, bukankah semua itu Allah yang menciptakannya, bulan, bintang, matahari dan segala planet lainnya, itu tidak mungkin" Lalu Ibrahim bin Adham berkata, "Ini sama saja dengan yang kedua, seumpama kita numpang di rumah orang, lalu beranikah kita melanggar segala aturan dari yang punya rumah, melecehkan dan menyakiti hatinya, tentu tidak kan". "Tentu saja saya tidak berani". jawab pemuda tersebut, lalu sang guru berkata, "Lalu mengapa kamu berani melecehkan Allah dengan segala peraturan-Nya? Pemuda itu kembali terdiam, lalu ia bertanya lagi, "Lalu apa lagi tuan guru?

   "Yang ke empat adalah, jika kamu masih melakukan maksiat dan suatu ketika datang malaikat maut yang hendak mencabut nyawamu, janganlah mau untuk dicabut nyawamu sebelum kamu bertaubat". Pemuda itu langsung menjawab, "Itu tidak mungkin, sedangkan tidak seorang pun yang tahu kapan dia akan mati, dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan malaikat pencabut nyawa itu akan datang". Lalu Ibrahim bin Adham pun berkata, "Jika tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia mati, apakah kamu tidak pernah berfikir, kalau suatu saat malaikat akan datang saat kamu lagi melakukan perbuatan dosa seumpama berzina, mabuk, mencuri atau yang lainnya, apakah kamu tidak sadar akan hal yang demikian?. pemuda tersebut langsung tertunduk lemas. lalu ia bekata, ?Lalu apa yang terakhir?.

    "Yang terakhir adalah, jika kamu masih melakukan dosa, dan ketika kamu dalam perbuatan dosa, lalu datang malaikat maut datang ketika kamu lagi melakukan perbuatan dosa, maka katakanlah kepada malaikat penjaga neraka kamu tidak mau masuk ke dalam neraka, mintalah hidup yang ke dua kali, agar kamu bisa bertaubat untuk dapat beribadah kepada Allah" "Bagaimana mungkin, sedangkan kita hidup di dunia hanya sekali, itu mustahil" kata pemuda tersebut. lalu Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai anak muda, maka dari itu, hidup ini hanya sekali kita tidak tahu kapan kita akan mati, kapan nyawa kita akan di cabut oleh malaikat maut, maka bertaubatlah sebelum nyawa kita terpisah dari badan, karena hidup hanya sekali, karena nanti semua apa yang kita perbuat akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah, apakah kamu kita hidup ini hanya ingin menumpukkan dosa, maka sekali lagi, hidup hanya sekali, jangan sia siakan kehidupan ini dengan segala yang tidak bermanfaat, apalagi melakukan dosa kepada Allah SWT". Pemuda tersebut langsung bersimpuh, Dengan air mata yang berlinang ia meminta izin meninggalkan sang Ibrahim bin Adham. Lalu ia bangkit berdiri meninggalkan sang guru.

   Setelah sekian lama pemuda itu telah berubah dari segala perbuatannya, ia tidak lagi melakukan apa yang di larang oleh Allah, ia kini menjadi ahli ibadah, dari kisah nyata di atas dapat kita ambil hikmah yaitu, bahwasanya hidup kita ini hanya sekali, jangan sia siakan kehidupan yang di berikan oleh Allah, berbuatlah yang dapat mendatangkan pahala, karena segala sesuatu nanti akan kita pertnggungjawabkan, sebesar apa pun itu tidak akan luput dari pemeriksaan Allah. Bertaubatlah atas dosa dosa yang kita lakukan, karena sesungguhnya Allah itu akan menerima taubat dari hamba hamba yang benar benar ingin bertaubat.
Back To Top