Rajin adalah kunci sukses, berusahalah jangan berputus asa

   Sesungguhnya Allah itu Maha Pemberi, Dialah yang memberikan segalanya bagi manusia, Dialah yang maha pemurah lagi Maha Penyayang bagi hamba-hamba yang beriman. Tapi tidak sedikit dari kita yang kadang kadang bertanya, mengapa begitu susah untuk mendapatkan rezeki. Salah satu penyebab dari susahnya untuk mendapatkan rezeki itu karena manusia itu sendiri yang malas untuk berusaha mendapatkannya. Allah tidak menyukai orang orang yang bermalas malasan dalam mencari rezeki. Yakinlah dengan itikat yang baik dalam berusaha Allah pasti akan memberikan apa yang kita inginkan. Maka janganlah malas dalam berusaha dalam segala hal. Dan yang terutama janganlah malas dalam melakukan ibadah kepada-Nya. Karena ini adalah kunci utama dari seseorang untuk mendapatkan rezeki dari Allah SWT.

   Dan sesungguhnya iblis akan terus menggoda manusia untuk bersifat malas, Iblis akan merasa berhasil jika dapat membuat manusia malas dalam melakukan segala hal yang baik baik, apalagi jika kita malas dalam beribadah kepada Allah. Karena tujuan utama dari iblis adalah menyesatkan manusia ke jalan yang salah. Kita tidak usah munafik, tentu saja kita pernah merasakan yang namanya malas, itulah bisikan yang dilancarkan iblis, karena dia tidak mau melihat manusia itu rajin, apalagi rajin dalam melakukan ibadah. Segala upaya akan dilakukannya untuk membuat manusia menjadi malas. Nah, jika kita ingin sukses serta mau berhasil janganlah malas dalam berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

   Tidak bermalas malasan dalam mendapatkan apa yang kita inginkan merupakan suatu ibadah kepada Allah, apalagi seseorang yang tidak bermalas malasan untuk mendapatkan rezeki untuk memenuhi segala kebutuhan keluarganya, untuk menafkahi anak anaknya serta istrinya. Kadang kadang banyak dari kita yang tidak menyadari, bahwa dengan malas tersebut telah membuat iblis berhasil dalam melancarkan misinya untuk menyesatkan manusia. Rasulullah sangat menganjurkan agar umatnya tidak malas dalam berusaha, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah berkata,

   "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing. "Para sahabat bertanya, "Dan engkau sendiri?. Rasulullah menjawab,"Ya, aku juga dulu menggembalakan (kambing-kambing) milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath". (Hr Bukhari)

   Seorang Rasulullah saja tidak malas dalam berusaha, seperti yang kita ketahui semua, dahulu Rasulullah juga pernah menjadi seorang yang menjadi tukang gembala kambing, beliau tidak pernah bersifat malas, selalu giat dalam bekerja. Contohlah dari keteladanannya, beliau tidak pernah merasa malu dalam bekerja, asalkan pekerjaan itu halal.

    Di dalam Al-Qur'an Allah juga berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّـهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

   "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan"(Qs, At-Taubah. 54)

   Bukan hanya dalam bekerja saja kita dituntut untuk tidak malas, tetapi dalam hal mengerjakan ibadah juga begitu, kita dituntut untuk mengerjakannya dengan penuh semangat, karena ibadah itu yang paling utama diperiksa oleh Allah kelak, tetapi harus diketahui, seseorang itu juga akan berdosa jika ia hanya memikirkan urusan akhirat saja tanpa memperhatikan kebutuhan dunianya, apalagi jika seseorang yang sudah mempunyai tanggung jawab, semisal seseorang yang memiliki keluarga, tentunya ia pastilah mempunyai anak anaknya yang wajib dinafkahi. Seseorang yang hanya mementingkan ibadahnya tanpa memperhatikan keluarganya tentunya akan berdosa, karena istri dan anaknya menjadi tanggung jawab dari seorang suami. Maka seorang suami yang tidak menafkahi keluarganya dan hanya sibuk dengan ibadah ia juga akan berdosa, karena telah melupakan kewajibannya. Rasulullah tidak menganjurkan yang demikian, sebagaimana kita semua tahu bahwa Rasulullah itu seorang yang paling taat dan rajin dalam ibadahnya, bahkan Beliau telah dijamin masuk surga, tetapi beliau masih saja beribadah dan bekerja untuk menafkahi keluarganya. Lalu mengapa kita hanya mementingkan ibadah saja, memang ibadah itulah yang menentukan seseorang nanti di akhirat, tetapi melupakan kewajiban dalam bekerja untuk menafkahi keluarga adalah suatu perbuatan dosa, karena telah melupakan tanggung jawab.

   Dan seseorang yang ingin berhasil di dalam segala hal hendak ia tidak bermalas malasan, giatlah di dalam berusaha, karena Allah akan memberikan apa yang di inginkan oleh hamba hamba yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kunci dari keberhasilan seseorang itu terletak dari seberapa ia mampu dan mau bekerja., karena semua itu tidak datang dengan sendirinya, untuk mendapatkan sesuatu yang yang besar itu butuh usaha yang besar juga, tidak ada yang instan, mie yang dalam kemasan saja yang katanya instan juga harus dimasak terlebih dahulu jika kita menginginkan rasa yang lebih enak, apalagi jika menginginkan yang sesuatu yang tidak akan datang dengan sendirinya.

   Tidak bermalas malasan dalam berusaha dan bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya termasuk juga dalam beribadah kepada Allah. Lalu mengapa kita mesti malas dalam bekerja, sesungguhnya segala yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah SWT, seseorang yang bekerja untuk kebutuhan hidupnya dan sebahagian dari hartanya di sisihkan untuk berinfaq dan bersedekah akan mendapat pahala yang begitu besar dari Allah. Dan sekali lagi, janganlah malas dalam bekerja, berusahalah dengan penuh semangat untuk mendapatkan sesuatu itu. Asalkan kita mau berusaha tentu Allah akan memberikannya, dan bersabarlah jika apa yang kita inginkan belum diberikan oleh-Nya. Semoga kita tidak berputus asa dalam berusaha.
Tag : Fiqh Ibadah
Back To Top